Sanjayasan's Blog

latihan membuat blog

KEBISINGAN PADA KAPAL BARANG JENIS CARAKA JAYA NIAGA III


PENGARANG : Samudro, dan Hardi Prasetyo

Abstract

Noise and vibration is still a central issue to the design of a ship for the sake of comfortness and avoidance of detrimental effects to the shipcrew and passengger for long occupation in the cargo ship. IMO standard is used for noise evaluation. The evaluation of noise and vibration condition in CARAKA JAYA NIAGA III type ship is based on actual measurement on board of the Caraka Jaya III-41 ship (KM. Panjang) and data taken from its sisterships. The assessment indicates that areas and rooms in the vicinity of main engine room suffer most .

Katakunci : getaran, kebisingan, pengukuran, evaluasi getaran dan kebisingan di atas kapal barang.

SUMBER :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, V3. n7, Oktober 2001, hal. 70-79 /Humas-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Getaran dan kebisingan selalu timbul pada kapal motor. Kedua sumber getaran dan kebisingan merupakan dua hal yang terkait. Untuk mengeliminir getaran ini perlu sekali untuk memahami karakteristik sumber sumber getaran serta kebisingan, bagaimana getaran ini dapat merambat ke seluruh badan kapal, cara cara yang efektif dan ekonomis untuk meredamnya dsb. Getaran kapal yang tak diredam pada gilirannya akan menghasilkan kebisingan yang dapat mengganggu kenyamanan kerja atau bahkan dapat membahayakan kesehatan.

Oleh karenanya hal tersebut perlu mendapat perhatian sesuai dengan resolusi yang dikeluarkan oleh International Maritime Organization (IMO).

Sebagai suatu studi kasus masalah kebisingan pada kapal laut, telah dilakukan pengukuran level getaran dan kebisingan pada kapal CARAKA JAYA NIAGA III-41 (KM. Panjang), pada saat dilakukan pengujian berlayar ( sea-trial) dari Lampung menuju Jakarta.

Adapun lingkup pembahasan studi meliputi aspek kebisingan kapal, sumber sumber getaran dan kebisingan, usulan perbaikan kondisi kerja di kapal, khususnya untuk penanganan masalah kebisingan serta studi banding dengan hasil pengukuran kebisingan dari tiga buah sistership Caraka Jaya Niaga III.

KESIMPULAN

  • Kecuali Ruang Mesin, level kebisingan yang berkisar antara 55 – 80 dBA masih memenuhi persyaratan untuk ditinggali tanpa mengganggu kesehatan, meskipun demikian kriteria level kebisingan yang diusulkan oleh IMO perlu diperhatikan.

  • Kondisi Ruangan pada Upper Deck dan Poop Deck dari seri Kapal Caraka Jaya Niaga III perlu mendapat perhatian untuk dilakukan absorbsi kebisingan setempat atau peredaman kebisingan dari sumbernya. Kondisi kapal baru yang belum dilengkapi kiranya mempunyai peran juga, mengingat tirai, kursi, lemari kayu, meja, dsb.nya mempunyai koefisien absorbsi yang perlu diperhitungkan.
  • Solusi paling ekonomis: secara umum transmisi dari airborne noise dapat secara efektif dikurangi secara memisahkan ruang ruang yang menjadi sumber bising dari ruang yang dirancang lebih senyap secara penempatan gang atau lorong, menempatkan ruang locker atau gudang ( store room ) diantaranya, pemasangan bahan akustik untuk meredam airborne noise serta pemasangan kelengkapan ruangan ( drapery, carpet and upholstry) dan lain sebagainya yang berdampak pada berkurangnya kebisingan jenis airborne .
  • Peredaman selanjutnya memerlukan pengukuran serta kajian yang lebih komprehensif.
  • Structureborne noise biasanya lebih penting untuk diperhatikan, karena getaran merambat melalui struktur kapal dan di setiap tempat yang dicapainya getaran tersebut menjadi sumber bising yang dapat didengar. Meskipun tingkat getaran yang terukur masih dapat diterima, dampak yang diberikannya pada kebisingan suara cukup dominan, sehingga pertimbangan untuk lebih meredam getaran mesin disarankan untuk dilakukan.

SARAN

  • Disarankan agar pada ruang di level Upper Deck diberi insulasi kebisingan yang memadai, baik yang merupakan pelapis dinding serta efek estetikanya, maupun perbaikan pada sistem tata udara, karena hasil pengukuran menunjukkan tingkat kebisingan yang cukup tinggi, misalnya pada louvre atau panel exhaust pada dapur ( galley )
  • Untuk mendapatkan korelasi antara tingginya tingkat kebisingan di upperdeck yang berasal dari kontribusi structureborne noise , maka level getaran pada gangway serta seluruh ruangan/kabin di upperdeck sebaiknya diukur dengan cermat pada kisaran pita frekuensi 31.5 – 10000 Hz dengan menggunakan filter band-pass 1/3 oktaf.
  • Untuk Ruang Mesin, perlu diperiksa ulang atas data yang diberikan oleh fabrikator NIIGATA-PIELSTICK pada saat penyerahan mesin, khususnya tentang data kebisingannya pada posisi dan jarak tertentu dari mesin. Bila ternyata emisi noise baik structureborne atau airborne noise memang cukup besar, maka perlu dicarikan solusi peredaman kebisingan, diantaranya melalui: penyekatan struktur yang bergetar (sistem exhaust , landasan mesin atau sistem bantalan kenyal ( resilient mounting ), baik mesin utama ataupun mesin auxiliary (pembangkit listrik, dsb).
  • Pengukuran nilai absorpsi bahan bahan akustik terhadap energi kebisingan jenis airborne dapat dilakukan, misalnya dengan rumusan Eyring atau Sabine, yaitu secara pengukuran perubahan waktu dengung didalam reverberation chamber akibat diintrodusirnya bahan yang bersifat menyerap energi akustik, (dapat dilakukan di Laboratorium Adhiwiyogo, Jurusan Teknik Fisika ITB atau di KIM Puspiptek).
  • Transmisi getaran dari mesin utama serta propeller harus diredam sebelum mencapai kabin dan ruang lainnya. Perlu diciptakan jalur yang cukup panjang antara sumber getaran dengan ruang penerima agar tercipta meningkatnya efek peredaman (structure borne transmission losses).
  • Idealnya, hasil pengukuran level getaran dan kebisingan kapal jenis ini secara periodik dievaluasi, dan dibandingkan dengan sisterships yang telah dibangun oleh berbagai galangan di Indonesia dan sudah cukup banyak beroperasi di Indonesia. Dengan cara ini suatu kajian yang komprehensif dapat dilaksanakan dan memberikan pengertian yang lebih baik atas desain dan rancang bangun kapal, khususnya dalam menanggulangi tingkat getaran dan kebisingan.

Pengukuran getaran sebaiknya menggunakan peralatan yang lebih baik, misalnya yang dilengkapi tracking filter , sedangkan untuk airborne noise menggunakan Precision Sound Level Meter yang dilengkapi dengan filter oktaf dan 1/3 oktaf .

Juni 25, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: